Makalah Kelompok Part 1

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Makalah Kelompok Part 1

Post by Yorsi Nuzulia on Tue Aug 11, 2009 1:55 pm

Hai guys!!!! postkanlah makalah kelompok kalian di sini!!! setiap kelompok 1 posting saja. yang mengepostkan adalah ketua kelompoknya... semangat!!!

Yorsi Nuzulia
Admin

Jumlah posting : 39
Join date : 21.07.09
Age : 27
Lokasi : yogyakarta

Lihat profil user http://learnsgeography.forumotion.net

Kembali Ke Atas Go down

makalah kelompok 1 XA PENDEKATAN KERUANGAN

Post by XA ARININDYA RETNANINGTYA on Tue Aug 11, 2009 2:20 pm

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan karunianya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas TIK.
Makalah ini berisi beberapa informasi tentang sejarah MS Office yang kami harapkan dapat memberikan informasi kepada para pembaca tentang sejarah MS Office ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa meridhoi segala usaha kita. Amin.

























DAFTAR ISI


Kata Pengantar………………………………………………………….i
Daftar Isi………………………………………………………………..ii
Isi(Sejarah MS Office)………………………………………………….1
Daftar Pustaka…………………………………………………………..7

a. Pendekatan Keruangan.
Pendekatan keruangan merupakan suatu cara pandang atau kerangka analisis yang menekankan eksistensi ruang sebagai penekanan. Eksisitensi ruang dalam perspektif geografi dapat dipandang dari struktur (spatial structure), pola (spatial pattern), dan proses (spatial processess) (Yunus, 1997).
Dalam konteks fenomena keruangan terdapat perbedaan kenampakan strutkur, pola dan proses. Struktur keruangan berkenaan dengan dengan elemen-elemen penbentuk ruang. Elemen-elemen tersebut dapat disimbulkan dalam tiga bentuk utama, yaitu: (1) kenampakan titik (point features), (2) kenampakan garis (line features), dan (3) kenampakan bidang (areal features).
Kerangka kerja analisis pendekatan keruangan bertitik tolak pada permasalahan susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Dalam analisis itu dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
1. What? Struktur ruang apa itu?
2. Where? Dimana struktur ruang tesebut berada?
3. When? Kapan struktur ruang tersebut terbentuk sperti itu?
4. Why? Mengapa struktur ruang terbentuk seperti itu?
5. How? Bagaimana proses terbentukknya struktur seperti itu?
6. Who suffers what dan who benefits whats? Bagaimana struktur
Keruangan tersebut didayagunakan sedemikian rupa untuk kepentingan manusia. Dampak positif dan negatif dari keberadaan ruang seperti itu selalu dikaitkan dengan kepentingan manusia pada saat ini dan akan datang.
Pola keruangan berkenaan dengan distribusi elemen-elemen pembentuk ruang. Fenomena titik, garis, dan areal memiliki kedudukan sendiri-sendiri, baik secara implisit maupun eksplisit dalam hal agihan keruangan (Coffey, 1989). Beberapa contoh seperti cluster pattern, random pattern, regular pattern, dan cluster linier pattern untuk kenampakan-kenampakan titik dapat diidentifikasi (Whynne-Hammond, 1985; Yunus, 1989).
Agihan kenampakan areal (bidang) dapat berupa kenampakan yang memanjang (linier/axial/ribon); kenampakan seperti kipas (fan-shape pattern), kenampakan membulat (rounded pattern), empat persegi panjang (rectangular pattern), kenampakan gurita (octopus shape pattern), kenampakan bintang (star shape pattern), dan beberapa gabungan dari beberapa yang ada. Keenam bentuk pertanyaan geografi dimuka selalu disertakan dalam setiap analisisnya.
Proses keruangan berkenaan dengan perubahan elemen-elemen pembentuk ruang dana ruang. Oleh karena itu analisis perubahan keruangan selalu terkait dengan dengan dimensi kewaktuan (temporal dimension). Dalam hal ini minimal harus ada dua titik waktu yang digunakan sebagai dasar analisis terhadap fenomena yang dipelajari.
Kerangka analisis pendekatan keruangan dapat dicontohkan sebagai berikut.
“....belakangan sering dijumpai banjir dan tanah longsor. Bencana itu terjadi di kawasan hulu sungai Konto Pujon Malang. Bagaimana memecahkan permasalahan tersebut dengan menggunakan pendekatan keruangan?
Untuk itu diperlukan kerangka kerja studi secara mendalam tentang kondisi alam dan masyarakat di wilayah hulu sungai Konto tersebut. Pada tahap pertama perlu dilihat struktur, pola, dan proses keruangan kawasan hulu sungai Konto tersebut. Pada tahap ini dapat diidentifikasi fenomena/obyek-obyek yang terdapat di kawasan hulu sungai Konto. Setelah itu, pada tahap kedua dapat dilakukan zonasi wilayah berdasarkan kerakteristik kelerengannya. Zonasi itu akan menghasilkan zona-zona berdasarkan kemiringannya, misalnya curam, agak curam, agak landai, landai, dan datar. Berikut pada tahap ketiga ditentukan pemanfaatan zona tersebut untuk keperluan yang tepat. Zona mana yang digunakan untuk konservasi, penyangga, dan budidaya. Dengan demikian tidak terjadi kesalahan dalam pemanfaatan ruang tersebut. Erosi dan tanah langsung dapat dicegah, dan bersamaan dengan itu dapat melakukan budidaya tanaman pertanian pada zona yang sesuai.
Studi fisik demikian saja masih belum cukup. Karakteristik penduduk di wilayah hulu sungai Konto itu juga perlu dipelajari. Misalnya jenis mata pencahariannya, tingkat pendidikannya, ketrampilan yang dimiliki, dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Informasi itu dapat digunakan untuk pengembangan kawasan yang terbaik yang berbasis masyarakat setempat. Jenis tanaman apa yang perlu ditanam, bagaimana cara penanamannya, pemeliharaannya, dan pemanfaatannya. Dengan pendekatan itu terlihat interelasi, interaksi, dan intergrasi antara kondisi alam dan manusia di situ untuk memecahkan permasalahan banjir dan tanah longsor.
b. Pendekatan Kelingkungan (Ecological Approach).
Dalam pendekatan ini penekanannya bukan lagi pada eksistensi ruang, namun pada keterkaitan antara fenomena geosfera tertentu dengan varaibel lingkungan yang ada. Dalam pendekatan kelingkungan, kerangka analisisnya tidak mengkaitkan hubungan antara makluk hidup dengan lingkungan alam saja, tetapi harus pula dikaitkan dengan (1) fenomena yang didalamnya terliput fenomena alam beserta relik fisik tindakan manusia. (2) perilaku manusia yang meliputi perkembangan ide-ide dan nilai-nilai geografis serta kesadaran akan lingkungan.
Dalam sistematika Kirk ditunjukkan ruang lingkup lingkungan geografi sebagai berikut. Lingkungan geografi memiliki dua aspek, yaitu lingkungan perilaku (behavior environment) dan lingkungan fenomena (phenomena environment). Lingkungan perilaku mencakup dua aspek, yaitu pengembangan nilai dan gagasan, dan kesadaran lingkungan. Ada dua aspek penting dalam pengembangan nilai dan gagasan geografi, yaitu lingkungan budaya gagasan-gagasan geografi, dan proses sosial ekonomi dan perubahan nilai-nilai lingkungan. Dalam kesadaran lingkungan yang penting adalah perubahan pengetahuan lingkungan alam manusianya.
Lingkungan fenomena mencakup dua aspek, yaitu relik fisik tindakan manusia dan fenomena alam. Relic fisik tindakan manusia mencakup penempatan urutan lingkungan dan manusia sebagai agen perubahan lingkungan. Fenomena lingkungan mencakup produk dan proses organik termasuk penduduk dan produk dan proses anorganik.
Studi mandalam mengenai interelasi antara fenomena-fenomena geosfer tertentu pada wilayah formal dengan variabel kelingkungan inilah yang kemudian diangap sebagai ciri khas pada pendekatan kelingkungan. Keenam pertanyaan geografi tersebut selalu menyertai setiap bentuk analisis geografi. Sistematika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
Kerangka umum analisis pendekatan kelingkungan dapat dicontohkan sebagai berikut.
Masalah yang terjadi adalah banjir dan tanah longsor di Ngroto Pujon Malang. Untuk mempelajari banjir dengan pendekatan kelingkungan dapat diawali dengan tindakan sebagai berikut. (1) mengidentifikasi kondisi fisik di lokasi tempat terjadinya banjir dan tanah longsor. Dalam identifikasi itu juga perlu dilakukan secara mendalam, termasuk mengidentifikasi jenis tanah, tropografi, tumbuhan, dan hewan yang hidup di lokasi itu. (2) mengidentifikasi gagasan, sikap dan perilaku masyarakat setempat dalam mengelola alam di lokasi tersebut. (3) mengidentifikasi sistem budidaya yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup (cara bertanam, irigasi, dan sebagainya). (4) menganalisis hubungan antara sistem budidaya dengan hasil dan dampak yang ditimbulkan. (5) mencari alternatif pemecahan atas permasalahan yang terjadi.
Dalam geografi lingkungan, pendekatan kelingungan mendapat peran yang penting untuk memahami fenomena geosfer. Dengan pendekatan itu fenomena geosfer dapat dipahami secara holistik sehingga pemecahan terhadap masalah yang timbul juga dapat dikonsepsikan secara baik.
c. Pendekatan Kompleks Wilayah
Permasalahan yang terjadi di suatu wilayah tidak hanya melibatkan elemen di wilayah itu. Permasalahan itu terkait dengan elemen di wilayah lain, sehingga keterkaitan antar wilayah tidak dapat dihindarkan. Selain itu, setiap masalah tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Faktor determinannya bersifat kompleks. Oleh karena itu ada kebutuhan memberikan analisis yang kompleks itu untuk memecahkan permasalahan secara lebih luas dan kompleks pula.
Untuk menghadapi permasalahan seperti itu, salah satu alternatif dengan menggunakan pendekatan kompleks wilayah. Pendekatan itu merupakan kombinasi antara pendekatan yang pertama dan pendekatan yang kedua. Oleh karena sorotan wilayahnya sebagai obyek bersifat multivariate, maka kajian bersifat hirisontal dan vertikal. Kajian horisontal merupakan analisis yang menekankan pada keruangan, sedangkan kajian yang bersifat vertikal menekankan pada aspek kelingkungan. Adanya perbedaan antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain telah menciptakan hubungan fungsional antara unit-unit wilayah sehingga tercipta suatu wilayah, sistem yang kompleks sifatnya dan pengkajiannya membutuhkan pendekatan yang multivariate juga.
Kerangka umum analisis pendekatan kompleks wilayah dapat dicontohkan sebagai berikut.
Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana memecahkan masalah urbanisasi. Masalah itu merupakan masalah yang kompleks, melibatkan dua wilayah, yaitu wilayah desa dan kota. Untuk memecahkan masalah itu dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut.
1. menerapkan pendekatan keruangan, seperti dicontohkan pada pendekatan pertama
2. menerapkan pendekatan kelingkungan, sebagaimana dicontohkan pada pendekatan kedua
3. menganalisis keterkaitan antara faktor-faktor di wilayah desa dengan di kota
Arti Penting Pendekatan dalam Paradigma Geografi
Dalam menghampiri, menganalisis gejala dan permasalahan suatu ilmu (sains), maka diperlukan suatu metode pendekatan (approach method). Metode pendekatan inilah yang digunakan untuk membedakan kajian geografi dengan ilmu lainnya, meskipun obyek kajiannya sama. Metode pendekatan ini terbagi 3 macam bentuk pendekatan antara lain: pendekatan keruangan, pendekatan ekologi/kelingkungan dan pendekatan kewilayahan.
1. Keruangan, analisis yang perlu diperhatikan adalah penyebaran, penggunaan ruang dan perencanaan ruang. Dalam analisis peruangan dikumpulkan data ruang disuatu tempat atau wilayah yang terdiri dari data titik (point), data bidang (areal) dan data garis (line) meliputi jalan dan sungai.
2. Kelingkungan, yaitu menerapkan konsep ekosistem dalam mengkaji suatu permasalahan geografi, fenomena, gaya dan masalah mempunyai keterkaitan aspek fisik dengan aspek manusia dalam suatu ruang.
3. Kewilayahan, yang dikaji yaitu tentang penyebaran fenomena, gaya dan masalah dalam ruangan, interaksi antar/variabel manusia dan variabel fisik lingkungannya yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lainnya. Karena pendekatan kewilayahan merupakan perpaduan antara pendekatan keruangan dan kelingkungan, maka kajiannya adalah perpaduan antara keduanya.
Pendekatan keruangan, pendekatan kelingkungan dan pendekatan kewilayahan dalam kerjanya merupakan satu kesatuan yang utuh. Pendekatan yang terpadu inilah yang disebut pendekatan geografi. Jadi fenomena, gejala dan masalah ditinjau penyebaran keruangannya, keterkaitan antara berbagai unit ekosistem dalam ruang. Penerapan pendekatan geografi terhadap gejala dan permasalahan dapat menghasilkan berbagai alternatif-alternatif pemecahan.

http://belajar-geografi.blogspot.com/2008/05/pendekatan-geografi.html




Dalam mempelajari ilmu geografi, terdapat tiga pendekatan yang digunakan untuk mengkaji, yaitu :
1. Pendekatan Keruangan
Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui persebaran dalam penggunaan ruang yang telah ada dan bagaimana penyediaan ruang akan dirancang. Dalam mengkaji fenomena geografi dapat menggunakan 3 subtopik dari pendekatan keruangan, yaitu :
a. Pendekatan Topik
Pendekatan ini digunakan untuk mengkaji masalah/fenomena geografi dari topik tertentu yang menjadi pusat perhatian, misalnya tentang wabah penyakit di suatu wilayah dengan cara mengkaji :
- penyebab wabah penyakit (misal : virus atau bakteri)
- media penyebarannya
- proses penyebaran
- intensitasnya
- interelasinya dengan gejala-gejala lain di sekitarnya.
Dengan pendekatan tersebut akan dapat diperoleh gambaran awal dari wabah penyakit yang terjadi.
b. Pendekatan Aktivitas
Pendekatan ini mengkaji fenomena geografi yang terjadi dari berbagai aktivitas yang terjadi. Misalnya hubungan mata pencaharian penduduk dengan persebaran dan interelasinya dengan gejala-gejala geosfer.
c. Pendekatan Regional
Pendekatan ini mengkaji suatu gejala geografi dan menekankan pada region sebagai ruang tempat gejala itu terjadi. Region adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang memiliki karakteristik tertentu yang khas.
2. Pendekatan Kelingkungan (Pendekatan Ekologis)
Digunakan untuk mengetahui keterkaitan dan hubungan antara unsur-unsur yang berada di lingkungan tertentu, yaitu :
- hubungan antar makhluk hidup
- hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungan alamnya
Contoh dari keterkaitan antar unsur misalnya petani di daerah lahan miring pasti akan melakukan kegiatan pertanian dengan sistem terrassering.
3. Pendekatan Kewilayahan
Merupakan kombinasi antara pendekatan keruangan dan kelingkungan. Misalnya dalam mengkaji wilayah yang memiliki karakaterisitik wilayah yang khas yang dapat dibedakan satu sama lain (areal differentation), maka harus diperhatikan bagaimana persebarannya (analisis keruangan) dan bagaimana interaksi antara manusia dengan lingkungan alamnya (analisis ekologi). Pendekatan wilayah sangat penting untuk pendugaan wilayah (reginal forecasting) dan perencanaan wilayah (regional planning).

DAFTAR PUSTAKA

1. http://geeks.netindonesia.net/blogs/tutang/archive/2007/01/24/Sejarah-Singkat-MS-Office.aspx

2. http://unholy-iskandar.blogspot.com/2009/01/mengenal-microsoft-word.html

XA ARININDYA RETNANINGTYA

Jumlah posting : 3
Join date : 02.08.09

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

makalah geografi kelompok 2...

Post by xa anirawilda purba on Wed Aug 12, 2009 12:38 pm

KATA PENGANTAR

Assalammualaikum, Wr. Wb
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis ini dengan judul “Makalah Pendekatan Kelingkungan”. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:
1. Ibu Dwi Muryanti S. Pd selaku pembimbing I.
2. Ibu Yorzi Nuzulia selaku pembimbing II.
3. Keluarga dan teman-teman yang banyak memberikan dorongan dan dukungan selama penulisan makalah ini.
Akhir kata, “Tak ada gading yang tak retak.” dalam pengertian bahwa dalam pembuatan makalah ini juga tidak lepas dari kekurangan. Dan penulis sangat menyadari apa yang ada di dunia ini tak ada yang sempurna. Oleh sebab itu, bila ada kekurangan dalam penelitian ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya dan penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi sempurnanya penelitian ini. Semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi yang memerlukan.
Wassalammualaikum, Wr.Wb
Bantul, 12 Agustus 2009


Tim Penulis















DAFTAR ISI




























PENDAHULUAN

A. Rumusan masalah

1. Bagaimana cara menanggulangi sampah ?
2. Siapa sajakah yang berperan dalam proses penanggulangan sampah ?
Dalam makalah pendekatan geografi ini kami mengangkat tema tentang pendekatan kelingkungan dengan masalah sampah. Karena di kehidupan kita, sampah merupakan masalah lingkungan yang hingga saat ini masih belum diketahui cara menanggulanginya secara efektif. Maka dari itu, kami mencoba untuk menganalisis dan mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

Pengertian Pendekatan Kelingkuang secara umum.

Dalam pendekatan ini penekanannya bukan lagi pada ekstensi ruang, namun pada keterkaitan antara fenomena geosfera tertentu dengan variable lingkungan yang ada. Dalam pendekatan lingkungan, kerangka analisisnya tidak mengaitkan hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungan alam saja, tetapi harus pula dikaitkan dengan fenomena yang di dalamnya mencangkup fenomena alam beserta relief fisik tindakan manusia. Selain itu juga perilaku manusia yang meliputi perkembangan ide-ide dan nilai-nilai geografis serta kesadaran akan lingkungan.




PENGERTIAN PENDEKATAN LINGKUNGAN

Ruang lingkup lingkungan memiliki dua aspek, yaitu lingkungan perilaku (behavior environment) dan lingkungan venomena (phenomena environment). Lingkingan perilaku mencakup dua aspek yaitu, pengembangan nilai dan gagasan serta kesadaran lingkungan. Lingkungan venomena mencakup dua asek yaitu tindakan manusia dan venomena alam. Venomena lingkungan mencakup hasil proses organic dan anorganik termasuk penduduk.
Dalam pendekatan ini penekanannya bukan lagi pada eksistensi ruang, namun pada keterkaitan antara fenomena geosfera tertentu dengan varaibel lingkungan yang ada. Dalam pendekatan kelingkungan, kerangka analisisnya tidak mengkaitkan hubungan antara makluk hidup dengan lingkungan alam saja, tetapi harus pula dikaitkan dengan:
1. Fenomena yang didalamnya terliput fenomena alam beserta relik fisik tindakan manusia.
2. Perilaku manusia yang meliputi perkembangan ide-ide dan nilai-nilai geografis serta kesadaran akan lingkungan.
Dalam sistematika Kirk ditunjukkan ruang lingkup lingkungan geografi sebagai berikut. Lingkungan geografi memiliki dua aspek, yaitu:
1. Lingkungan perilaku (behavior environment) dan
2. Lingkungan fenomena (phenomena environment).
Lingkungan perilaku mencakup dua aspek, yaitu:
1. Lengembangan nilai dan gagasan
2. Kesadaran lingkungan.
Lingkungan fenomena mencakup dua aspek, yaitu:
1. Relic fisik tindakan manusia mencakup penempatan urutan lingkungan dan manusia sebagai agen perubahan lingkungan.
2. Fenomena alam
Fenomena lingkungan mencakup produk dan proses organik termasuk penduduk dan produk dan proses anorganik.
Studi mandalam mengenai interelasi antara fenomena-fenomena geosfer tertentu pada wilayah formal dengan variabel kelingkungan inilah yang kemudian diangap sebagai ciri khas pada pendekatan kelingkungan. Sistematika tersebut dapat digambarkan sebagaiberikut:














PERMASALAHAN PENDEKATAN KELINGKUNGAN
SAMPAH
Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis.
Jenis - Jenis Sampah:
1. Sampah organik
Sampah organik terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan, atau yang lain. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam prose salami. Contohnya : sampah umah tangga sebagian besar sampah organic. Misalnya sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah, dan daun.
2. Sampah Anorganik.
Sampah anorganik berasal dari SDA tak terbarui seperti mineral dan minyak bumi, atau dari proses industry. Sebagian zat organic secara keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang sangat lama. Contohnya pada tingkat rumah tangga, misalnya berupa botol, botol plastic, tas plastic, dan kaleng.
Permasalahan
Penumpukan sampah secara terus menerus akan mengakibatkan kerusakan lingkungan. Sebagai contohnya adalah Global Warming. Sampah mempunyai kontribusi besar terhadap meningkatnya emisi gas rumah kaca. Karena penumpukan sampah tanpa diolah akan melepaskan gas metana(CH4). Setiap ton sampah padat menghasilkan 50kg gas metana. Diperkirakan tahun 2020 sampah yang dihasilkan sekitar 500 juta kg / hari atau 190 rb ton / tahun. Hal tersebut berarti Indonesia akan mengemisikan gas metana ke atmosfer sebesar 9500 ton.
Penanggulangan sampah dengan cara 3 R:
1. Reduce
2. Reuse
3. Recycle
Cara Lain :
1. Sebagai pembuatan pupuk dengan membangun system penimbunan sampah di dalam tanah yang kemudian akan menghasilkan sampah.
2. Gantilah kantong plastic dengan kantong kertas.
3. Kurangi penggunaan atau gunakan kembali kantong plastic.
4. Gunakan kertas dengan maksimal.



NB : Ditunggu saran dan kritiknya ya miss........

xa anirawilda purba

Jumlah posting : 4
Join date : 01.08.09

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: Makalah Kelompok Part 1

Post by XA ZENITA AVISENA on Wed Aug 12, 2009 7:00 pm

KELOMPOK 1 (PENDEKATAN KERUANGAN)






KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan karunianya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas geogafi.
Makalah ini berisi beberapa informasi tentang pengertian pendekatan keruangan yang kami harapkan dapat memberikan informasi kepada para pembaca tentang hal ini secara lebih rinci.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa meridhoi segala usaha kita. Amin.













DAFTAR ISI


Kata Pengantar………………………………………………………….i
Daftar Isi………………………………………………………………..ii
BAB I…………………………………………………………………..1
BAB II………………………………………………………………….3
BAB III…………………………………………………………………4

























BAB 1
DEFINISI PENDEKATAN KERUANGAN


Pendekatan keruangan merupakan suatu cara pandang atau kerangka analisis yang menekankan eksistensi ruang sebagai penekanan. Eksisitensi ruang dalam perspektif geografi dapat dipandang dari struktur (spatial structure), pola (spatial pattern), dan proses (spatial processess) (Yunus, 1997).
Dalam konteks fenomena keruangan terdapat perbedaan kenampakan strutkur, pola dan proses. Struktur keruangan berkenaan dengan dengan elemen-elemen penbentuk ruang. Elemen-elemen tersebut dapat disimbulkan dalam tiga bentuk utama, yaitu: (1) kenampakan titik (point features), (2) kenampakan garis (line features), dan (3) kenampakan bidang (areal features).
Kerangka kerja analisis pendekatan keruangan bertitik tolak pada permasalahan susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Dalam analisis itu dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
1. What? Struktur ruang apa itu?
2. Where? Dimana struktur ruang tesebut berada?
3. When? Kapan struktur ruang tersebut terbentuk sperti itu?
4. Why? Mengapa struktur ruang terbentuk seperti itu?
5. How? Bagaimana proses terbentukknya struktur seperti itu?
6. Who suffers what dan who benefits whats? Bagaimana struktur
Keruangan tersebut didayagunakan sedemikian rupa untuk kepentingan manusia. Dampak positif dan negatif dari keberadaan ruang seperti itu selalu dikaitkan dengan kepentingan manusia pada saat ini dan akan datang.
Pola keruangan berkenaan dengan distribusi elemen-elemen pembentuk ruang. Fenomena titik, garis, dan areal memiliki kedudukan sendiri-sendiri, baik secara implisit maupun eksplisit dalam hal agihan keruangan (Coffey, 1989). Beberapa contoh seperti cluster pattern, random pattern, regular pattern, dan cluster linier pattern untuk kenampakan-kenampakan titik dapat diidentifikasi (Whynne-Hammond, 1985; Yunus, 1989).
Agihan kenampakan areal (bidang) dapat berupa kenampakan yang memanjang (linier/axial/ribon); kenampakan seperti kipas (fan-shape pattern), kenampakan membulat (rounded pattern), empat persegi panjang (rectangular pattern), kenampakan gurita (octopus shape pattern), kenampakan bintang (star shape pattern), dan beberapa gabungan dari beberapa yang ada. Keenam bentuk pertanyaan geografi dimuka selalu disertakan dalam setiap analisisnya.
Proses keruangan berkenaan dengan perubahan elemen-elemen pembentuk ruang dana ruang. Oleh karena itu analisis perubahan keruangan selalu terkait dengan dengan dimensi kewaktuan (temporal dimension). Dalam hal ini minimal harus ada dua titik waktu yang digunakan sebagai dasar analisis terhadap fenomena yang dipelajari.




Dalam mempelajari ilmu geografi, terdapat tiga pendekatan yang digunakan untuk mengkaji, salah satunya yaitu :
Pendekatan Keruangan
Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui persebaran dalam penggunaan ruang yang telah ada dan bagaimana penyediaan ruang akan dirancang. Dalam mengkaji fenomena geografi dapat menggunakan 3 subtopik dari pendekatan keruangan, yaitu :
a. Pendekatan Topik
Pendekatan ini digunakan untuk mengkaji masalah/fenomena geografi dari topik tertentu yang menjadi pusat perhatian, misalnya tentang wabah penyakit di suatu wilayah dengan cara mengkaji :
- penyebab wabah penyakit (misal : virus atau bakteri)
- media penyebarannya
- proses penyebaran
- intensitasnya
- interelasinya dengan gejala-gejala lain di sekitarnya.
Dengan pendekatan tersebut akan dapat diperoleh gambaran awal dari wabah penyakit yang terjadi.
b. Pendekatan Aktivitas
Pendekatan ini mengkaji fenomena geografi yang terjadi dari berbagai aktivitas yang terjadi. Misalnya hubungan mata pencaharian penduduk dengan persebaran dan interelasinya dengan gejala-gejala geosfer.
c. Pendekatan Regional
Pendekatan ini mengkaji suatu gejala geografi dan menekankan pada region sebagai ruang tempat gejala itu terjadi. Region adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang memiliki karakteristik tertentu yang khas.







BAB II
PERMASALAHAN



Banjir dan tanah longsor yang sering terjadi di hulu sungai Konto Pujon Malang, yang sangat meresahkan warga di sekitar kawasan itu,dapat di analisis melalui pendekatan geografi keruangan. Berikut dalam bab III, akan kita bahas cara menganalisis dan hubungan antara bencana tanah longsor dan banjir di hulu sungai Konto Pujon Malang, dengan pendekatan keruangan dalam geografi.






BAB III
HUBUNGAN ANTARA PERMASALAHAN DENGAN PENGERTIAN PENDEKATAN KERUANGAN

Belakangan sering dijumpai banjir dan tanah longsor. Bencana itu terjadi di kawasan hulu sungai Konto Pujon Malang. Bagaimana memecahkan permasalahan tersebut dengan menggunakan pendekatan keruangan?
Untuk itu diperlukan kerangka kerja studi secara mendalam tentang kondisi alam dan masyarakat di wilayah hulu sungai Konto tersebut. Pada tahap pertama perlu dilihat struktur, pola, dan proses keruangan kawasan hulu sungai Konto tersebut. Pada tahap ini dapat diidentifikasi fenomena/obyek-obyek yang terdapat di kawasan hulu sungai Konto. Setelah itu, pada tahap kedua dapat dilakukan zonasi wilayah berdasarkan kerakteristik kelerengannya. Zonasi itu akan menghasilkan zona-zona berdasarkan kemiringannya, misalnya curam, agak curam, agak landai, landai, dan datar. Berikut pada tahap ketiga ditentukan pemanfaatan zona tersebut untuk keperluan yang tepat. Zona mana yang digunakan untuk konservasi, penyangga, dan budidaya. Dengan demikian tidak terjadi kesalahan dalam pemanfaatan ruang tersebut. Erosi dan tanah langsung dapat dicegah, dan bersamaan dengan itu dapat melakukan budidaya tanaman pertanian pada zona yang sesuai.
Studi fisik demikian saja masih belum cukup. Karakteristik penduduk di wilayah hulu sungai Konto itu juga perlu dipelajari. Misalnya jenis mata pencahariannya, tingkat pendidikannya, ketrampilan yang dimiliki, dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Informasi itu dapat digunakan untuk pengembangan kawasan yang terbaik yang berbasis masyarakat setempat. Jenis tanaman apa yang perlu ditanam, bagaimana cara penanamannya, pemeliharaannya, dan pemanfaatannya. Dengan pendekatan itu terlihat interelasi, interaksi, dan intergrasi antara kondisi alam dan manusia di situ untuk memecahkan permasalahan banjir dan tanah longsor.














DAFTAR PUSTAKA



http://belajar geografi.blogspot.com

XA ZENITA AVISENA

Jumlah posting : 4
Join date : 03.08.09

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

PENDEKATAN KEWILAYAHAN ( KLMPK 3 )

Post by XA aureliareza on Wed Aug 12, 2009 7:06 pm

Assalamualaikum Wr.Wb

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayatnya kepada kita semua. Dan tak lupa kepada semua pihak yang telah mendukung penyelesaian makalah yang berjudul “PENDEKATAN KEWILAYAHAN” kami ini. Maka dari itu, kami berterimakasih kepada :

1. Ibu Dwi Muryanti S. Pd
2. Ibu Yorzi Nuzulia
3. Teman-teman kelompok 3 yang telah bekerja sama dengan baik sehingga di dapatlah makalah ini


Cukup sekian dari kami, kurang dan lebihnya kami mohon maaf . Semoga makalah ini dapat menjadi manfaat bagi kehidupan.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Kasihan, 12 Agustus 2009




( Penyusun )





PERMASALAHAN PENDEKATAN KEWILAYAHAN :

PERBEDAAN YG SIGNIFIKAN ANTARA NTT DAN BOGOR

Walaupun NTT dan Bogor sama sama Indonesia , namun keadaan wilayah dan SDM nya berbeda sekali . Di NTT banyak kita temui orang orang yang terkena penyakit kurang gizi / busung lapar. Mereka semua hidup di dalam wilayah yang gersang dan banyak padang safana . Jadi , keadaan disana cukup kering dan tidak bisa bercocok tanam padi , jadi mereka harus membeli jauh jauh padi tersebut dari luar daerah . Permasalahan selanjutnya , di NTT susah sekali mencari SDM yang dapat mengolah apa yang ada sehingga saat mereka kehabisan stok makanan , mereka bingung akan makan apa nantinya. Peranan pemerintah disini kurang , karena tidak meratanya kesejahteraan bagi Rakyat Indonesia. Sarana untuk sekolah pun saja mereka sudah susah , bagaimana bisa mereka dapat mengolah hasil SDA di NTT itu sendiri. Apalagi, NTT adalah perbatasan antara Timor Lestea ( Negara Timor Timur ). Sering kali mereka mendengar peperangan di jalur perbatasan Timor Lestea tersebut. Jadi , hidup mereka sangat memprihatinkan .

Beda 180 derajat dengan Kabupaten Bogor, Jabar. Disana, padi tumbuh subur , banyak SDM yang dapet mengolah sendiri hasil sumber daya alamnya. Dan perbedaan yang sangat mempengaruhi dari NTT dan Bogor adalah iklim dan cuaca. Jadi, faktor tersebutlah yang menjadi permasalahan antara di NTT dan di Bogor. Selain itu, faktor kewilayahan jug mempengaruhi. Di NTT dekat dengan wilayah konflik, dan di Bogor terdapat Istana Negara yang di jaga sedemikian ketatnya. Sehingga Bogor menjadi aman.

Kesimpulannya adalah, pendekatan kewilayahan di NTT dan Bogor adalah berbeda cara. Karena banyak faktor yang mempengaruhi. Di NTT harus melibatkan pemerintah, tentara, dan SDM yang sudah matang untuk memperbaiki situasi, keadaan warga dan unsur unsur lain dengan peran serta masyarakat itu sendiri. Di Bogor pendekatan kewilayahannya mungkin cukup dengan menjaga kemakmuran yang sudah didapat, dan kalau bisa meningkatkan hasil swadayanya supaya bisa di kirim ke daerah daerah Indonesia yg lain yang membutuhkan sumber daya dari Bogor.



Pendekatan Kewilayahan

Merupakan kombinasi antara pendekatan keruangan dan kelingkungan. Misalnya dalam mengkaji wilayah yang memiliki karakaterisitik wilayah yang khas yang dapat dibedakan satu sama lain (areal differentation), maka harus diperhatikan bagaimana persebarannya (analisis keruangan) dan bagaimana interaksi antara manusia dengan lingkungan alamnya (analisis ekologi). Pendekatan wilayah sangat penting untuk pendugaan wilayah (reginal forecasting) dan perencanaan wilayah (regional planning).

Di dalam pendekatan kewilayahan , kita membahas lagi tentang pendekatan keruangan dan kelingkungan . Agar lebih jelas, kami akan menjabarkan lagi isi apa itu pendekatan keruangan dan kelingkungan :

1. Pendekatan Keruangan

Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui persebaran dalam penggunaan ruang yang telah ada dan bagaimana penyediaan ruang akan dirancang. Dalam mengkaji fenomena geografi dapat menggunakan 3 subtopik dari pendekatan keruangan, yaitu :

a. Pendekatan Topik

Pendekatan ini digunakan untuk mengkaji masalah/fenomena geografi dari topik tertentu yang menjadi pusat perhatian, misalnya tentang wabah penyakit di suatu wilayah dengan cara mengkaji :

- penyebab wabah penyakit (misal : virus atau bakteri)

- media penyebarannya

- proses penyebaran

- intensitasnya

- interelasinya dengan gejala-gejala lain di sekitarnya.

Dengan pendekatan tersebut akan dapat diperoleh gambaran awal dari wabah penyakit yang terjadi.

b. Pendekatan Aktivitas

Pendekatan ini mengkaji fenomena geografi yang terjadi dari berbagai aktivitas yang terjadi. Misalnya hubungan mata pencaharian penduduk dengan persebaran dan interelasinya dengan gejala-gejala geosfer.

c. Pendekatan Regional

Pendekatan ini mengkaji suatu gejala geografi dan menekankan pada region sebagai ruang tempat gejala itu terjadi. Region adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang memiliki karakteristik tertentu yang khas.

2. Pendekatan Kelingkungan (Pendekatan Ekologis)


Digunakan untuk mengetahui keterkaitan dan hubungan antara unsur-unsur yang berada di lingkungan tertentu, yaitu :

- hubungan antar makhluk hidup

- hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungan alamnya

Contoh dari keterkaitan antar unsur misalnya petani di daerah lahan miring pasti akan melakukan kegiatan pertanian dengan sistem terrassering.

Cukup sekian dari kami, bila ada khilaf mohon dimaafkan. Karena manusia tidak ada yang sempurna. Terimakasih Smile

XA aureliareza

Jumlah posting : 4
Join date : 02.08.09
Age : 21
Lokasi : Jogjakarta

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: Makalah Kelompok Part 1

Post by Sponsored content Today at 5:19 am


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik